Rabu, 03 Juni 2015

[002] Al Baqarah Ayat 064

««•»»
Surah Al Baqarah 64

ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
««•»»
tsumma tawallaytum min ba'di dzaalika falawlaa fadhlu allaahi 'alaykum warahmatuhu lakuntum mina alkhaasiriina
««•»»
Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.
««•»»
Then after that you turned away; and were it not for Allah’s grace on you and His mercy, you would surely have been among the losers.
««•»»

Allah dalam ayat ini menerangkan bahwa sesudah Bani Israel mengambil perjanjian dari Allah swt. seperti disebutkan pada ayat yang lalu, kemudian mereka berpaling dan tidak menepati isi perjanjian itu. Mereka banyak melanggar ketentuan-ketentuan dalam Taurat, baik oleh nenek moyang mereka zaman dahulu maupun oleh mereka yang hidup pada zaman kemudian. Umpamanya pada zaman mereka hidup di padang pasir Tih, mereka menentang Nabi Musa, menyakiti beliau, melawan segala perintah-perintahnya. Pada zaman kemudian mereka membunuh Nabi Yahya, mengingkari Isa a.s. bahkan merencanakan akan membunuhnya. Keingkaran mereka terhadap Nabi Muhammad saw. termasuk bukti penyelewengan mereka dari Taurat. Sudah sewajarnya mereka mendapat azab dari Allah swt. sebab penyelewengan penyelewengan itu atau Allah melenyapkan dari mereka nikmat untuk selama lamanya. Tetapi Allah tidak berbuat demikian karena kasih sayang-Nya. Mereka tidak dibinasakan dan Allah selalu membuka pintu tobat bagi yang ingin kembali ke jalan yang benar.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Kemudian kamu berpaling) menyalahi ikrar (setelah itu) maksudnya setelah berikrar tadi (maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu) yaitu dengan menerima tobatnya atau menangguhkan siksa terhadapmu (niscayalah kamu akan termasuk orang-orang yang merugi) atau celaka.
««•»»
Then you turned away thereafter, and but for God’s bounty and His mercy towards you, you would have been among the losers [there is no commentary on this verse].
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 63]•[AYAT 65]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
64of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=64&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#2:64


[002] Al Baqarah Ayat 063

««•»»
Surah Al Baqarah 63

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
««•»»
wa-idz akhadznaa miitsaaqakum warafa'naa fawqakumu alththhuura khudzuu maa aataynaakum biquwwatin waudzkuruu maa fiihi la'allakum tattaquuna
««•»»
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada didalamnya, agar kamu bertakwa".
««•»»
And when We took a pledge from you, and raised the Mount above you [declaring], ‘Hold on with power to what We have given you, and remember that which is in it, so that you may be Godwary.’
««•»»

Allah mengingatkan kembali kesalahan lain dari nenek moyang orang Yahudi ketika Allah mengambil janji dan mereka, yaitu bahwa mereka akan beriman dan akan mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat. Lalu Allah mengangkat bukit Tur ke atas kepala mereka untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya supaya mereka beriman kepada-Nya dan berpegang teguh kepada Kitab Taurat itu.

Isi perjanjian tersebut ialah perintah Allah kepada mereka, "Peganglah kitab Taurat dengan sungguh-sungguh dan tetaplah mengerjakan isinya, pelajarilah Taurat itu, perhatikan isinya dan amalkanlah hukum-hukum yang termaktub di dalamnya".

Ayat ini memberi pengertian bahwa orang yang meninggalkan syariat dan meremehkan hukum-hukum Allah disamakan dengan orang yang mengingkari dan menentangnya. Sudah sepatutnya ia pada hari kiamat dikumpulkan dalam keadaan buta. Dia tidak dapat melihat jalan kemenangan dan jalan kebahagiaan.

Allah swt. berfirman:
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا  •  قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى
Berkatalah ia, "Ya Tuhanku! Mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?". Allah berfirman, "Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya dan begitu (pula) pada hari ini, kamupun dilupakan (tidak diperdulikan)".
(QS Thaaha [20]:125-126)

Apabila seseorang mengingkari syariat dan menyia-nyiakan hukum-Nya, berarti syariat itu tidak mempunyai bekas (pengaruh) apa-apa pada jiwanya. Sehubungan dengan pengertian ayat ini dapatlah dikatakan bahwa orang-orang yang hanya melagu-lagukan Alquran mereka tidak mendapat manfaat dari Alquran itu.

Maksud menuruti kitab-kitab suci ialah mengamalkan isinya, bukan hanya sekadar membaca dan melagukannya dengan macam-macam lagu yang merdu.

Kemudian Allah memerintahkan agar mereka berpegang teguh kepada Al Kitab itu dan selalu mempelajarinya dan mengamalkan isinya agar mereka menjadi orang yang bertakwa.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan) ingatlah (ketika Kami mengambil ikrar darimu) yakni ikrar bahwa kamu akan melakukan ajaran-ajaran yang terdapat dalam Taurat. (dan) sesungguhnya (Kami angkat gunung Thursina ke atasmu) artinya Kami cabut dari dasarnya untuk ditimpakan kepadamu, yakni tatkala kamu tidak mau berikrar seraya Kami berfirman, ("Peganglah dengan teguh apa yang Kami berikan kepadamu ini!) maksudnya secara giat dan sungguh-sungguh (dan ingatlah baik-baik apa yang ada di dalamnya) yakni dengan mengamalkannya (agar kamu termasuk orang-orang yang bertakwa.") Artinya terpelihara dirimu dari api neraka dan perbuatan durhaka.
««•»»
And, mention, when We made a covenant with you, your pledge to act according to what is in the Torah, and We, had, raised above you the Mount, which We uprooted from the earth [and placed] above you when you refused to accept it [sc. the Torah], and We said, ‘Take forcefully, seriously and with effort, what We have given you, and remember what is in it, acting in accordance with it, so that you might preserve yourselves’, from the Fire or acts of disobedience.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 62]•[AYAT 64]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
63of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=63&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:63


[002] Al Baqarah Ayat 062

««•»»
Surah Al Baqarah 62

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

««•»»
inna alladziina aamanuu waalladziina haaduu waalnnashaaraa waalshshaabi-iina man aamana biallaahi waalyawmi al-aakhiri wa'amila shaalihan falahum ajruhum 'inda rabbihim walaa khawfun 'alayhim walaa hum yahzanuuna
««•»»
sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin {56}, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah {57}, hari kemudian dan beramal saleh  {58}, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
{56} Shabiin ialah orang-orang yang mengikuti syari`at nabi-nabi zaman dahulu atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa.
{57} Orang-orang mukmin begitu pula orang Yahudi, Nasrani dan Shabiin yang beriman kepada Allah Termasuk iman kepada Muhammad s.a.w., percaya kepada hari akhirat dan mengerjakan amalan yang saleh, mereka mendapat pahala dari Allah.
{58} Ialah perbuatan yang baik yang diperintahkan oleh agama Islam, baik yang berhubungan dengan agama atau tidak.
««•»»
Indeed the faithful, the Jews, the Christians, and the Sabaeans —those of them who have faith in Allah and the Last Day and act righteously— they shall have their reward near their Lord, and they will have no fear, nor will they grieve.
««•»»

Dalam ayat ini Allah menjelaskan keadaan tiap-tiap umat atau bangsa yang benar-benar berpegang kepada ajaran nabi-nabi mereka serta beramal saleh, mereka akan mendapat ganjaran di sisi Allah karena rahmat dan magfirah Tuhan selalu terbuka untuk seluruh hamba-hamba-Nya untuk orang-orang Yahudi atau pun untuk lain-lainnya. Tetapi bila mana ia beriman dan bertobat, niscaya Allah mengampuninya dan memberikan ganjaran kepadanya di dunia dan di akhirat.

Yang dimaksud dengan "orang-orang yang mukmin" dalam ayat ini ialah orang yang mengaku beriman kepada Muhammad Rasulullah saw. dan menerima segala yang diajarkan oleh beliau sebagai suatu kebenaran dari sisi Allah. Pengertian beriman ialah seperti yang dijelaskan Rasul saw. sewaktu Jibril a.s. menemui beliau.

Beliau berkata,
أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الأخر وتؤمن بالقدر خيره وشره
Agar/hendaknya kamu beriman kepada Allah. malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan kamu percaya pada hari kiamat dan qadar baik atau buruk.
(HR Ibnu Majah dari Umar ra)

Dan yang dimaksud orang Yahudi, ialah semua orang yang memeluk agama Yahudi. Mereka dinamakan Yahudi karena kebanyakan mereka dari keturunan Yahudi, salah seorang keturunan Yakub (Israel). Yang dimaksud orang-orang Nasrani ialah orang-orang yang menganut agama Nasrani. Kata Nasrani diambil dari nama suatu daerah Nasirah (Nazareth) di Palestina tempat Nabi Isa a.s. dilahirkan Siti Maryam. Yang dimaksud orang Sabiin di sini ialah orang-orang yang mengakui keesaan Allah, beriman kepadanya tapi mereka tidak menganut agama Yahudi atau pun Nasrani. Siapa saja di antara ketiga golongan di atas yang hidup pada waktu sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw benar-benar beragama menurut agama mereka, membenarkan dengan sepenuh hati akan adanya Allah dan hari kiamat, mengamalkan segala tuntutan syariat agamanya, mereka mendapat pahala dari sisi Allah swt.

Sesudah kedatangan Nabi Muhammad saw. seluruh umat manusia, diwajibkan beriman kepadanya dan segala ajaran-ajaran yang dibawanya yakni dengan menganut Islam.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sesungguhnya orang-orang yang beriman) kepada para nabi di masa lalu (dan orang-orang Yahudi) (orang-orang Kristen dan orang-orang Shabiin) yakni segolongan dari orang-orang Yahudi atau Nasrani (siapa saja yang beriman) di antara mereka (kepada Allah dan hari akhir) di masa nabi kita (serta mengerjakan amal saleh) yaitu syariatnya (mereka akan memperoleh pahala) sebagai ganjaran dari amal perbuatan mereka itu (di sisi Tuhan mereka, tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka berduka cita). Dhamir atau kata ganti orang pada `aamana`, `amila` dan sesudahnya hendaklah diartikan secara umum atau siapa saja.
««•»»
Surely those who believe, [who believed] before, in the prophets, and those of Jewry, the Jews, and the Christians, and the Sabaeans, a Christian or Jewish sect, whoever, from among them, believes in God and the Last Day, in the time of our Prophet, and performs righteous deeds, according to the Law given to him — their wage, that is, the reward for their deeds, is with their Lord, and no fear shall befall them, neither shall they grieve (the [singular] person of the verbs āmana, ‘believes’, and ‘amila, ‘performs’, takes account of the [singular] form of man, ‘whoever’, but in what comes afterwards [of the plural pronouns] its [plural] meaning [is taken into account]).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Adani dalam Musnadnya, dari jalur Ibnu Abu Najih, dari Mujahid, Kata Salman, "Saya tanyakan kepada Nabi saw. tentang penganut-penganut agama yang saya anut dulu, dan saya sebutkan tentang salat dan ibadah mereka, maka turunlah ayat. 'Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan orang-orang Yahudi...' sampai dengan akhir ayat." Diketengahkan oleh Wahidi dari jalur Abdullah bin Katsir dari Mujahid, katanya, "Tatkala dikisahkan oleh Salman kepada Rasulullah saw. riwayat sahabat-sahabatnya, maka jawabnya, 'Mereka dalam neraka.' Kata Salman, 'Bumi terasa gelap olehku (karena jawaban itu)', maka turunlah ayat, 'Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi...' sampai dengan '...berdukacita.'
(Q.S. Al-Baqarah 62)
Kata Salman pula, 'Maka seolah-olah lenyaplah semua beban yang menggunung dariku'." Diketengahkan pula oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim, dari Sadiy katanya, "Ayat ini diturunkan berkenaan dengan sahabat-sahabat Salman Al-Farisi."
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 61]•[AYAT 63]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
62of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=62&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:62


Senin, 27 April 2015

[002] Al Baqarah Ayat 061

««•»»
Surah Al Baqarah 61

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
««•»»
wa-idz qultum yaa muusaa lan nashbira 'alaa tha'aamin waahidin faud'u lanaa rabbaka yukhrij lanaa mimmaa tunbitu al-ardhu min baqlihaa waqitstsaa-ihaa wafuumihaa wa'adasihaa wabashalihaa qaala atastabdiluuna alladzii huwa adnaa bialladzii huwa khayrun ihbithuu mishran fa-inna lakum maa sa-altum wadhuribat 'alayhimu aldzdzillatu waalmaskanatu wabaauu bighadhabin mina allaahi dzaalika bi-annahum kaanuu yakfuruuna bi-aayaati allaahi wayaqtuluuna alnnabiyyiina bighayri alhaqqi dzaalika bimaa 'ashaw wakaanuu ya'taduuna
««•»»
dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya". Musa berkata: "Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta". Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.
««•»»
And when you said, ‘O Moses, ‘We will not put up with one kind of food. So invoke your Lord for us, that He may bring forth for us of that which the earth grows —its greens and its cucumbers, its garlic, its lentils, and its onions.’ He said, ‘Do you seek to replace what is superior with that which is inferior? Go down to any town and you will indeed get what you ask for!’ So they were struck with abasement and poverty, and they earned Allah’s wrath. That, because they would defy the signs of Allah and kill the prophets unjustly. That, because they would disobey and used to commit transgression.
««•»»

Ketika orang-orang Bani Israel tersesat di padang pasir Sinai, mereka berkata kepada Nabi Musa bahwa mereka tidak tahan terhadap satu makanan saja sedang yang ada hanya "al manna" dan "as salwa" saja (85). Mereka berkata demikian disebabkan keingkaran mereka terhadap Nabi Musa dan kebanggaan dengan penghidupan mereka dahulu.

Kaum Bani Israel itu kemudian meminta kepada Musa a.s. agar berdoa kepada Tuhan semoga Dia mengeluarkan sayur-sayuran yang ditumbuhkan bumi sebagai ganti dari "manna" dan "salwa". Mereka tidak mau berdoa sendiri tetapi mengharapkan Musa sebagai perantara kepada Tuhan karena mereka memandang Musa orang yang dekat kepada Tuhan dan lagi dia seorang Nabi yang dapat bermunajat dengan Allah swt. Sayur-mayur dan lain-lain yang mereka minta itu banyak terdapat di kota-kota, tapi tidak terdapat di padang pasir. Permintaan itu bukanlah sukar dicari. Mereka memperolehnya asal saja mereka pergi ke kota karena itu nabi Musa tidak perlu berdoa kepada Allah. Nabi Musa menolak permintaan itu dengan penuh kekecewaan dan kejengkelan dengan mencela sikap mereka karena mereka meminta ganti "al manna" dan "as salwa" makanan yang sebenarnya mengandung nilai gizi yang tinggi dan sangat diperlukan oleh tubuh, dengan sayur-mayur yang lebih rendah gizinya.

Kemudian Nabi Musa menyuruh mereka keluar dari gurun Sinai (tempat mereka tersebut) dan pergi menuju kota, di situlah mereka akan mendapatkan yang mereka inginkan sebab gurun Sinai tempat mereka tinggal sampai batas waktu yang telah ditentukan Allah itu, tidak dapat menumbuhkan sayur sayuran. Mereka tinggal di gurun Sinai itu, disebabkan mereka lemah dan tidak tabah untuk mengalahkan penduduk negara yang dijanjikan bagi mereka. Maka sebenarnya mereka sendirilah yang menetapkan dirinya memakan makanan semacam itu. Mereka akan dapat lepas dari hal yang tidak mereka sukai, bilamana mereka memiliki keberanian memerangi orang-orang yang di sekitar mereka yang menjadi penduduk bumi yang dijanjikan Allah dan menjamin memberi pertolongan kepada mereka. Oleh sebab ini hendaknya mereka mencari jalan mendapatkan kemenangan dan keuntungan mereka.

Setelah Allah menceritakan penolakan Musa terhadap permintaan mereka dan sebelumnya telah membentangkan pula nikmat-nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, dalam ayat ini Allah mengemukakan beberapa kejahatan keturunan Bani Israel yang datang kemudian yaitu: ingkar kepada ayat-ayat Allah, membunuh nabi-nabi dan pelanggaran mereka terhadap hukum Allah.

Oleh sebab kejahatan-kejahatan itu, Allah menimpakan kepada mereka kehinadinaan, kemiskinan dan murka Ilahi.

Sudah semestinya mereka menerima murka Ilahi, menanggung bencana dan siksa di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Demikian pula mereka mendapatkan kehinaan, kemiskinan karena mereka selalu menolak ayat-ayat Allah yang telah diberikan kepada Nabi Musa berupa mukjizat yang terang yang mereka saksikan sendiri. Kedurhakaan dan penolakan mereka terhadap Nabi Musa adalah suatu bukti bahwa ayat-ayat Allah tidak berbekas pada jiwa mereka. Mereka tetap mengingkarinya

Mereka membunuh Nabi Asy'iya, Nabi Zakaria, Nabi Yahya dan nabi yang lain dari golongan mereka, tanpa alasan yang benar. Memang sesungguhnya; orang yang berbuat kesalahan kadang-kadang meyakini bahwa yang diperbuatnya itu adalah benar. Perbuatan mereka yang demikian itu bukanlah karena salah dalam memahami:, atau menafsirkan hukum tetapi memang dengan sengaja menyalahi hukum hukum Allah yang telah disyariatkan di dalam agama mereka. Kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan kelancangan mereka membunuh para nabi, disebabkan mereka banyak melampaui batas ketentuan ketentuan agama mereka. Seharusnya agama mempunyai pengaruh yang hebat pada jiwa manusia, sehingga penganutnya takut menyalahi perintah-Nya.

Apabila seseorang melampaui peraturan-peraturan atau batas-batas agamanya berarti pengaruh agama pada jiwanya sudah lemah. Semakin sering dia melanggar batas hukum agama itu semakin lemah pulalah pengaruh agama pada jiwanya. Sampai pada akhirnya pelanggaran-pelanggaran ketentuan-ketentuan agama itu menjadi kebiasaannya, seolah-olah ia lupa akan adanya batas-batas agama dan peraturan-peraturannya. Akhirnya lenyaplah pengaruh agama dalam hatinya.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan ketika kamu berkata, "Hai Musa! Kami tidak bisa tahan dengan satu makanan saja!") maksudnya satu macam saja, yaitu manna dan salwa. (Oleh sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami) sesuatu (dari apa yang ditumbuhkan bumi berupa) sebagai penjelasan (sayur-mayur, ketimun, bawang putih) (kacang adas dan bawang merah, maka jawabnya) yaitu jawab Musa kepada mereka, ("Maukah kamu mengambil sesuatu yang lebih rendah atau lebih jelek sebagai pengganti) (dari yang lebih baik) atau lebih utama?"

Pertanyaan ini berarti penolakan, tetapi mereka tidak mau menarik permintaan itu hingga Musa pun berdoa kepada Allah, maka Allah Taala berfirman, ("Turunlah kamu) pergilah (ke salah satu kota) di antara kota-kota (pastilah kamu akan memperoleh) di sana (apa yang kamu minta") dari tumbuh-tumbuhan itu. (Lalu dipukulkan) ditimpakan (atas mereka kenistaan) kehinaan dan kenistaan (dan kemiskinan) yakni bekas-bekas dan pengaruh kemiskinan berupa sikap statis dan rendah diri yang akan selalu menyertai mereka walaupun mereka kaya, tak ubahnya bagai mata uang yang selalu menurut dan tidak akan lepas dari cetakannya, (dan kembalilah mereka) (membawa kemurkaan dari Allah, demikian itu), yakni pukulan dan kemurkaan Allah itu (disebabkan mereka) (mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi) seperti Nabi Zakaria dan Yahya (tanpa hak) hanya karena keaniayaan semata.

(Demikian itu terjadi karena mereka selalu berbuat kedurhakaan dan karena mereka melanggar batas) artinya batas-batas peraturan hingga jatuh ke dalam maksiat. Kalimat pertama diulangnya untuk memperkuatnya.
««•»»
And when you said, ‘Moses, we will not endure one sort of food, that is to say, manna and quails; pray to your Lord for us, that He may bring forth for us, something, of (min here is explicative) what the earth produces — green herbs, cucumbers, garlic, lentils, onions’, he, Moses, said, to them, ‘Would you exchange what is better, more noble, that is, do you substitute this, with what is lowlier?’ (the hamza of a-tastabdilūna is for rebuke); they thus refused to change their mind and he [Moses] supplicated to God, and He, exalted be He, said, ‘Go down to a city, whichever city it may be; you shall have, there, what you demanded’ of vegetable produce; And abasement, submissiveness, and wretchedness, that is, the signs of poverty on account of their submissiveness and debasement that always accompany them, even if they be rich, in the same way that a coin never changes its mint; were cast upon them, and they incurred, ended up with God’s wrath; that, that is, that affliction and wrath, was because they used to disbelieve the signs of God and slay prophets, such as Zachariah and John, without right, that is, unjustly; that was because they disobeyed, and they were transgressors, overstepping the bounds in disobedience (here the repetition [dhālik bi-mā ‘asaw wa-kānū ya‘tadūn] is for emphasis).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 60]•[AYAT 62]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
61of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=61&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:61


[002] Al Baqarah Ayat 060

««•»»
Surah Al Baqarah 60

وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
««•»»
wa-idzi istasqaa muusaa liqawmihi faqulnaa idhrib bi'ashaaka alhajara fainfajarat minhu itsnataa 'asyrata 'aynan qad 'alima kullu unaasin masyrabahum kuluu waisyrabuu min rizqi allaahi walaa ta'tsaw fii al-ardhi mufsidiina
««•»»
Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing) {55}. Makan dan minumlah rizki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.
{55} Ialah sebanyak suku Bani Israil sebagaimana tersebut dalam surat Al A`raaf ayat 160.
««•»»
And when Moses prayed for water for his people, We said, ‘Strike the rock with your staff.’ Thereat twelve fountains gushed forth from it; every tribe came to know its drinking-place. ‘Eat and drink of Allah’s provision, and do not act wickedly on the earth, causing corruption.’
««•»»

Pada permulaan ayat ini Allah swt. mengisahkan bagaimana Nabi Musa a.s. berdoa kepada Allah swt. untuk mendapatkan air minum bagi para pengikutnya itu yang terdiri dari dua belas suku. Allah mengabulkan doa tersebut, lalu memerintahkan Nabi Musa a.s. memukulkan tongkatnya ke sebuah batu besar yang ada di padang pasir itu. Tiba-tiba memancarlah air dari batu sebanyak dua belas sumber, sehingga masing-masing suku dari kaum Nabi Musa a.s. mendapatkan air minum dengan cukup.

Kejadian ini merupakan mukjizat bagi Musa a.s. untuk membuktikan kerasulannya dan untuk menunjukkan kekuasaan Allah swt.

Sesungguhnya Allah kuasa memancarkan air dari batu, tanpa dipukul dengan tongkat lebih dahulu akan tetapi Allah swt. hendak memperlihatkan kepada hamba-Nya hubungan sebab dengan akibat, supaya mereka itu apabila menginginkan sesuatu haruslah berusaha dan bekerja mendapatkannya menurut proses hubungan antara sebab dan akibat. Allah swt. telah menyediakan rezeki untuk setiap makhluk-Nya yang hidup di muka bumi ini, akan tetapi rezeki itu tak datang sendiri, melainkan harus diusahakan dan harus ditempuh cara caranya. Siapa yang malas berusaha tentu tidak akan mendapatkan rezeki yang diperlukan.

Akan tetapi, di samping itu Allah swt. telah menciptakan manusia ini mempunyai pikiran dan perasaan yang terbatas, sehingga ia hanya dapat memahami yang berada dalam daerah jangkauan indera pikiran dan perasaannya. Apabila ia melihat adanya sesuatu yang berada di luar kemampuannya, ia berusaha untuk mengembalikan persoalannya kepada yang telah diketahuinya. Bila ia tidak dapat memahaminya sama sekali maka ia menjadi bingung, apabila hal itu terjadi di hadapannya berulang kali. Maka Allah memperlihatkan mukjizat melalui para nabi sesuai dengan keadaan umat pada masa nabi itu.

Allah swt. menyuruh mereka makan dan minum dari rezeki yang telah dilimpahkan kepada mereka dan dilarang-Nya mereka untuk berbuat kelaliman.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan) ingatlah (ketika Musa memohon air) (untuk kaumnya) yakni ketika mereka telah kehausan di padang Tih (lalu firman Kami, "Pukulkanlah tongkatmu ke atas batu itu!") yaitu batu yang pernah membawa lari pakaiannya, bentuknya tipis persegi empat sebesar kepala manusia, batu lunak atau seperti keduanya lalu dipukulkannya (maka terpancarlah) terbelahlah batu itu lalu keluar air (daripadanya dua belas mata air) yaitu sebanyak jumlah suku Bani Israel (sesungguhnya telah mengetahui tiap-tiap suku) yakni tiap-tiap suku di antara mereka (tempat minum mereka) masing-masing hingga mereka tidak saling berebut.

Lalu firman Kami kepada mereka, ("Makan dan minumlah rezeki yang diberikan Allah dan janganlah kamu berbuat keonaran di muka bumi dengan melakukan pengrusakan!") 'Mufsidiin' menjadi 'hal' yang memperkuat perbuatan pelaku '`atsiya' yang berarti berbuat keonaran
.
««•»»
And, mention, when Moses sought water for his people, for they suffered thirst in the wilderness, We said, ‘Strike with your staff the rock, (the one that ran off with his robe, a light cube-like [rock] about the size of a man’s head, made of marble) and he struck it, and there exploded, there burst and gushed forth, from it twelve fountains, equal to the number of tribes, each people, [each] tribe among them, came to know their drinking-place, which they did not share with any of the others. And We said to them, ‘Eat and drink of that which God has provided, and do not be degenerate in the earth, seeking corruption’ (mufsidīn is a circumstantial qualifier emphasising its operator, the subject of the verb [lā ta‘thaw, ‘do not be degenerate’] derived from ‘athiya, meaning afsada, ‘to corrupt’).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 59]•[AYAT 61]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
59of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=60&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:60


[002] Al Baqarah Ayat 059

««•»»
Surah Al Baqarah 59

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
««•»»
fabaddala alladziina zhalamuu qawlan ghayra alladzii qiila lahum fa-anzalnaa 'alaa alladziina zhalamuu rijzan mina alssamaa-i bimaa kaanuu yafsuquuna
««•»»
Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.
««•»»
But the wrongdoers changed the saying with other than what they were told. So We sent down on those who were wrongdoers a plague from the sky because of the transgressions they used to commit.
««•»»

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Lalu orang-orang yang aniaya mengubah) di antara mereka (perintah yang tidak dititahkan kepada mereka) mereka mengatakan, habbatun fi sya`ratin , bahkan mereka memasukinya bukan dengan bersujud tetapi merangkak di atas pantat mereka. (Maka Kami timpakan atas orang-orang yang aniaya itu) di sini disebutkan "atas orang-orang yang aniaya itu", yang sebenarnya cukup dengan kata ganti 'mereka' saja, dengan maksud sebagai kecaman (siksa) berupa penyakit taun (dari langit disebabkan kefasikan mereka) disebabkan mereka melanggar ketaatan. Maka dalam waktu satu jam ada 70 ribu orang atau mendekati jumlah itu di antara mereka yang mati.
««•»»
Then the evildoers, among them, substituted a saying other than that which had been said to them, and said instead, ‘A grain inside a hair’ and entered [the town] dragging themselves on their rears; so We sent down upon the evildoers (the replacement of the second person [of the previous verse] with the overt identification in the third person alladhīna zalamū, ‘the evildoers’, is intended to emphasise the depravity of their action) wrath, a punishment of plague, from the heaven for their wickedness, for deviating from obedience, and within a very short period of time just under seventy thousand of them were dead.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 58]•[AYAT 60]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
59of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=59&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:59


[002] Al Baqarah Ayat 058

««•»»
Surah Al Baqarah 58

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ
««•»»
wa-idz qulnaa udkhuluu haadzihi alqaryata fakuluu minhaa haytsu syi/tum raghadan waudkhuluu albaaba sujjadan waquuluu hiththhatun naghfir lakum khathaayaakum wasanaziidu almuhsiniina
««•»»
Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud  {54}, dan katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik".
{54} Maksudnya menurut sebagian ahli tafsir: menundukkan diri.
««•»»
And when We said, ‘Enter this town,[1] and eat thereof freely whencesoever you wish, and enter prostrating at the gate, and say, “Relieve [us of the burden of our sins],”[2] that We may forgive your iniquities, and soon We will enhance the virtuous.’
[1] This city, according to tradition (see Tafsīr al-Imām al-ʿAskarī), was Arīḥāʾ or Jericho (or Jerusalem, according to some commentators), an ancient city of Palestine near the northwest shore of the Dead Sea. A stronghold commanding the valley of the lower Jordan River, it was captured and destroyed by Joshua forty years later.
[2] Or ‘[We beseech] forgiveness [for our sins].’
««•»»

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan ingatlah ketika Kami berfirman,) kepada mereka setelah mereka keluar dari bukit Tih, ("Masuklah kamu ke negeri ini"), yakni Baitulmakdis atau Yerusalem dan ada pula yang mengatakannya `Ariha` (Maka makanlah di antara makanannya yang baik lagi enak mana yang kamu sukai) tanpa ada larangan (dan masukilah pintu gerbangnya) (dalam keadaan bersujud) artinya menundukkan diri (dan ucapkanlah) sebagai permohonan, ("Bebaskanlah kami dari dosa!") (niscaya Kami ampuni) menurut suatu qiraat `yughfar`, sedangkan menurut suatu qiraat lainnya `tughfar`, keduanya kata kerja pasif yang berarti `diampuni` (bagimu kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami tambah pula pemberian Kami kepada orang-orang yang berbuat baik) maksudnya diampuni karena berlaku taat, diberi tambahan, yakni pahalanya.
««•»»
And when We said, to them, after they came out of the wilderness, ‘Enter this city, either the Holy House [of Jerusalem] (Bayt al-Maqdis) or Jericho (Arīhā), and eat freely therein wherever you will, plentifully and without any restrictions, and enter it at the gate, its gate, prostrating, bowing, and say, ‘our request is for [an] exoneration’, that is, ‘That we be exonerated from our transgressions’, and We shall forgive (naghfir: a variant reading has one of the two passive forms yughfar or tughfar, ‘[they] will be forgiven’) you your transgressions and We shall give more to those who are virtuous’ — through obedience — in terms of reward.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 57]•[AYAT 59]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
58of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=58&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:58