Senin, 13 Juli 2015

[002] Al Baqarah Ayat 085

««•»»
Surah Al Baqarah 85

ثُمَّ أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقًا مِنْكُمْ مِنْ دِيَارِهِمْ تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسَارَى تُفَادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْرَاجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
««•»»
tsumma antum haaulaa-i taqtuluuna anfusakum watukhrijuuna fariiqan minkum min diyaarihim tazhaaharuuna 'alayhim bial-itsmi waal'udwaani wa-in ya/tuukum usaaraa tufaaduuhum wahuwa muharramun 'alaykum ikhraajuhum afatu/minuuna biba'dhi alkitaabi watakfuruuna biba'dhin famaa jazaau man yaf'alu dzaalika minkum illaa khizyun fii alhayaati alddunyaa wayawma alqiyaamati yuradduuna ilaa asyaddi al'adzaabi wamaa allaahu bighaafilin 'ammaa ta'maluuna
««•»»
Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat {68}.
{68} Ayat ini berkenaan dengan cerita orang Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah. Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan suku Aus, dan Yahudi dari Bani Nadhir bersekutu dengan orang-orang Khazraj. antara suku Aus dan suku Khazraj sebelum Islam selalu terjadi persengketaan dan peperangan yang menyebabkan Bani Quraizhah membantu Aus dan Bani Nadhir membantu orang-orang Khazraj. sampai antara kedua suku Yahudi itupun terjadi peperangan dan tawan menawan, karena membantu sekutunya. tapi jika kemudian ada orang-orang Yahudi tertawan, Maka kedua suku Yahudi itu bersepakat untuk menebusnya Kendatipun mereka tadinya berperang-perangan.
««•»»
Then there you were, killing your folks and expelling a part of your folks from their homes, backing one another against them in sin and aggression! And if they came to you as captives, you would ransom them, though their expulsion itself was forbidden you. What! Do you believe in part of the Book and defy another part? So what is the requital of those of you who do that except disgrace in the life of this world? And on the Day of Resurrection, they shall be consigned to the severest punishment. And Allah is not oblivious of what you do.
««•»»

Dalam ayat ini Allah mengemukakan kenyataan tentang pelanggaran orang Yahudi terhadap larangan Allah itu. Di Madinah sejak sebelum Nabi Muhammad saw terdapat tiga suku Yahudi yaitu Bani Qainuqa, Bani Nadir dan Bani Quraizah. Ketiga suka itu terlibat dalam perang saudara yang terjadi antara kabilah Aus dan Khazraj, keduanya penduduk asli kota Madinah. Bani Qainuqa dan Bani Nadir adalah sekutu kabilah Khazraj, sedangkan Bani Quraizah adalah sekutu kabilah Aus. Dengan demikian terjadilah peperangan dan usir-mengusir antara sesama kaum Yahudi sendiri.

Ayat ini menerangkan bahwa sesudah menerima janji yang kuat itu, mereka merusaknya dengan membunuh saudara-saudara mereka sendiri, mereka saling membunuh sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang terhadap mereka, sedangkan mereka mengaku bahwa janji Allah itu juga dikenakan pada mereka.

Sebagian orang-orang Yahudi membantu orang-orang Arab yang telah menjadi sekutu mereka dengan membuat dosa seperti pembunuhan dan peperangan dan membantu mereka di dalam permusuhan seperti pengusiran dari kampung halaman.

Bilamana ada yang tertawan, baik orang Arab ataupun orang Yahudi yang bermusuhan, maka untuk melepaskannya mereka meminta uang tebusan. Masing-masing golongan Yahudi menebus bangsanya yang menjadi tawanan itu, walaupun tawanan itu musuhnya. Mereka mengemukakan alasan bahwa kitab suci mereka memerintahkan supaya mereka menebus tawanan-tawanan bangsa yang suci itu. Jika mereka benar-benar beriman kepada kitabnya seperti yang mereka katakan, mengapa mereka mengusir saudara-saudaranya itu dari kampungnya, sedangkan Taurat melarang mereka berbuat begitu? Kalau demikian, bukankah itu berarti mengejek agama? Mengapa mereka beriman pada sebagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?

Allah telah membuat janji dengan Bani Israel di dalam At Taurat, supaya mereka jangan bunuh membunuh dan jangan saling mengusir di antara sesamanya.

Tersebut dalam Taurat, "Siapa saja hamba lelaki atau hamba perempuan dari Bani Israel yang kamu dapati, bayarlah harganya dan merdekakanlah dia". Namun mereka tetap saling bunuh membunuh di antara sesamanya dan tetap saling mengusir. Mereka menyalahi janji mereka kepada Allah. Apabila ada yang ditawan, mereka menebusnya, sebagai. ketaatan mereka kepada janji. Bukankah yang demikian ini berarti bahwa mereka mengimani sebagian isi Al Kitab dan tidak percaya kepada bagian yang lain?

Pembalasan terhadap para pelanggar ketentuan-ketentuan di atas ialah kebinasaan dalam dunia dan azab yang pedih di akhirat.

Kenyataan telah menunjukkan, bahwa umat yang berlaku curang terhadap perintah Allah dan melempar agama ke belakang, mereka akan bercerai berai dan akan ditimpa azab kehinaan sebagai pembalasan terhadap kerusakan akhlaknya dan kejahatannya.

Adapun orang-orang yang tetap berlaku benar, menyucikan dirinya dan baik keadaannya, akan memperoleh nikmat di sisi Tuhannya.

Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa-apa yang mereka kerjakan. Dia akan memberi balasan terhadap segala amal perbuatan manusia.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Kemudian kamu) hai (Bani Israel, kamu bunuh dirimu) dengan berbunuhan sesamamu (dan kamu usir sebagian kamu dari kampung halaman mereka, kamu bertolong-tolongan) ta asalnya diidgamkan pada zha sehingga dibaca `tazhzhaaharuuna`, tetapi pada satu qiraat diringankan dengan membuangnya sehingga bacaannya menjadi `tazhaaharuuna` dengan membuang zha yang berarti tolong-menolong (terhadap mereka dengan berbuat dosa) maksiat (dan permusuhan) atau penganiayaan. (Tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai orang-orang tawanan) pada satu qiraat tercantum `asra` (kamu tebus mereka) ada pula yang membaca `tafduuhum`, artinya kamu bebaskan mereka dari tawanan dengan harta atau lainnya dan ini termasuk kebiasaan yang berlaku di kalangan orang-orang Yahudi (padahal dia) artinya kenyataannya (mengusir mereka itu diharamkan bagimu).

Kalimat ini berhubungan dengan firman-Nya, "dan kamu usir," sedangkan kalimat-kalimat yang terdapat di antara keduanya merupakan `jumlah mu`taridhah` atau interupsi, artinya sebagaimana diharamkannya mengabaikan tebusan. Selama ini suku Quraizhah mengadakan persekutuan dengan Aus, sedangkan Nadhir dengan Khajraj. Setiap suku ikut berperang bersama sekutu mereka, bahkan sampai menghancurkan dan mengusir pihak lawan walaupun sama-sama Yahudi. Tetapi jika Yahudi pihak lawan itu tertawan, maka mereka tebus. Jika ditanyakan kepada mereka, kenapa kamu perangi dan kamu tebus mereka, maka jawab mereka, "Karena kami diminta mereka untuk memberikan tebusan." Jika ditanyakan, "Kenapa pula kamu perangi mereka?" Jawab mereka, "Karena kami merasa malu jika sekutu-sekutu kami menderita kekalahan!"

Firman Allah Taala, ("Apakah kamu beriman pada sebagian Alkitab) yakni soal menebus tawanan (dan ingkar terhadap sebagian yang lain) agar tidak membunuh, tidak mengusir dan tidak bantu-membantu berbuat dosa dan penganiayaan. (Tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu kecuali kehinaan) atau kenistaan (dalam kehidupan dunia) kehinaan ini telah dialami oleh Bani Quraizhah dengan dibunuh dan dibasminya golongan laki-laki mereka, dan juga oleh Bani Nadhir yang diusir ke Syam dan diwajibkan membayar upeti. (Dan pada hari kiamat mereka dikembalikan pada siksaan yang amat berat dan Allah tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan). Ada yang membaca dengan ta dan ada pula yang dengan ya.
««•»»
Then there you are killing one another, and expelling a party of you from their habitations, conspiring (tazzāharūna: the original ta’ has been assimilated with the zā’; a variant reading has it without [the assimilation, that is, tazāharūna]), assisting one another, against them in sin, in disobedience, and enmity, injustice, and if they come to you as captives (a variant reading [for usārā] has asrā), you ransom them (a variant reading [for tafdūhum] has tufādūhum), that is to say, you deliver them from captivity with money etc., and this [ransoming] was one of the things to which they were pledged; yet their expulsion was forbidden you (muharramun ‘alaykum ikhrājuhum is semantically connected to wa-tukhrijūna, ‘and expelling’, and the statement that comes in between is parenthetical, that is, [expulsion was forbidden you] in the same way that non-ransoming was forbidden you). Qurayza had allied themselves with the Aws, and the Nadīr with the Khazraj, but every member of an alliance would fight against a fellow ally, thus destroying each other’s homes and expelling one another, taking prisoners and then ransoming them. When they were asked: ‘Why do you fight them and then pay their ransom?’, they would reply, ‘Because we have been commanded to ransom’; and they would be asked, ‘So, why do you fight them then?’, to which they would say, ‘For fear that our allies be humiliated’; God, exalted, says: What, do you believe in part of the Book, that is, the part about ransom, and disbelieve in part?, namely, the part about renouncing fighting, expulsion and assistance [against one another]; What shall be the requital of those of you who do that, but degradation, disgrace and ignominy, in the life of this world: they were disgraced when Qurayza were slewn and the Nadīr were expelled to Syria, and ordered to pay the jizya; and on the Day of Resurrection to be returned to the most terrible of chastisement? And God is not heedless of what you do (ta‘malūna, or read ya‘malūna, ‘they do’).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 84]•[AYAT 86]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
85of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=85&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:85


[002] Al Baqarah Ayat 084

««•»»
Surah Al Baqarah 84

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ
««•»»
wa-idz akhadznaa miitsaaqakum laa tasfikuuna dimaa-akum walaa tukhrijuuna anfusakum min diyaarikum tsumma aqrartum wa-antum tasyhaduuna
««•»»
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.
««•»»
And when We took a pledge from you: ‘You shall not shed your [own people’s] blood, and you shall not expel your folks from your homes,’ you pledged, and you testify[1] [to this pledge of your ancestors].
[1] Or ‘and you testified.’
««•»»

Dalam ayat ini Allah telah mengambil janji dan Bani Israel agar mereka benar-benar menjauhi pertumpahan darah di antara mereka dan jangan saling mengusir dan negeri masing-masing. Mereka hendaklah merupakan kesatuan bangsa karunia satu agama dan satu keturunan. Masing-masing hendaklah merasakan bahwa diri dan darahnya adalah diri dan darah kaumnya.

Ayat ini juga mengandung larangan mengerjakan kejahatan-kejahatan yang dijatuhi hukuman mati kisas atau pengusiran dari kampung halaman yang berarti membunuh diri sendiri. Bilamana mengerjakan sesuatu kesalahan dapat dijatuhi hukuman mati, maka berarti membunuh dirimu sendiri.

Pada akhir ayat ini Allah menyatakan bahwa mereka orang Yahudi zaman Rasulullah saw. mengaku dan menerima janji ini bahkan mereka menjadi saksi atas janji itu.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan ingatlah ketika Kami menerima perjanjian pula darimu) dan firman Kami, ("Kamu tidak akan menumpahkan darahmu) artinya mengalirkannya dengan berbunuhan sesamamu (dan tidak akan mengeluarkan dirimu dari kampung halamanmu) dari negerimu. (Kemudian kamu berikrar) akan menepati perjanjian tersebut (sedangkan kamu mempersaksikan.") atas diri kamu sendiri.
««•»»
And when We made a covenant with you, and We said: ‘You shall not shed your own blood, spilling it by slaying one another; neither expel your own from your habitations’: let no one of you expel the other from his house; then you confirmed it, that is, you accepted this covenant, and you bore witness, upon your own souls.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 83]•[AYAT 85]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
84of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=84&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:84


[002] Al Baqarah Ayat 083

««•»»
Surah Al Baqarah 83

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ
««•»»
wa-idz akhadznaa miitsaaqa banii israa-iila laa ta'buduuna illaa allaaha wabialwaalidayni ihsaanan wadzii alqurbaa waalyataamaa waalmasaakiini waquuluu lilnnaasi husnan wa-aqiimuu alshshalaata waaatuu alzzakaata tsumma tawallaytum illaa qaliilan minkum wa-antum mu'ridhuuna
««•»»
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.
««•»»
And when We took a pledge from the Children of Israel: ‘Worship no one but Allah, do good to parents, relatives, orphans, and the needy, and speak kindly to people, and maintain the prayer, and give the zakāt,’ you turned away, except a few of you, and you were disregardful.
««•»»

Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. ketika Dia menetapkan atas Bani Israel janji yang harus mereka penuhi, yaitu bahwa mereka tidak akan menyembah sesuatu selain Allah swt.

Allah melarang mereka beribadat kepada selain Allah, biarpun berupa manusia atau berhala dan lain-lain karunia hal yang demikian itu berarti mempersekutukan Allah dengan benda-benda tersebut. Menyembah kepada selain Allah adakalanya dengan perbuatan-perbuatan yang lain yang berupa membesarkan sesuatu yang disembah itu. Agama Allah yang dibawa oleh para utusan-Nya semuanya menekankan untuk menyembah Allah yang Maha Esa dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Seperti firman Allah swt.
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu"
(QS. An Nisa' [4]:36)

Janji dan Bani Israel ini diawali dengan janji memenuhi hak Allah, hak yang tertinggi dan terbesar yaitu hanya Dia semata-mata yang berhak disembah, tidak ada sesuatupun yang disekutukan dengan Dia. Semua makhluk diperintahkan menyembah-Nya dan untuk tugas inilah sebenarnya mereka diciptakan.

Sesudah menyebutkan hak Allah ini, disusul dengan perintah berbuat kebaikan kepada orang tua, suatu amal kebaikan yang tertinggi.

Dalam firman-Nya:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
Berbuat kebaikanlah kepada kedua orang tuamu
(QS. An Nisa' [4]:36)

Berbuat kebaikan kepada orang tua ialah dengan mengasihi, memelihara dan menjaganya dengan sempurna serta menuruti kemauannya selama tidak menyalahi perintah Allah. Adapun hikmah berbakti kepada ibu dan bapak ialah karunia ibu bapak itu telah berkorban untuk kepentingan anaknya di kala masih kecil dengan sepenuh perhatian dan belas kasihan. Mereka mendidiknya dan mengurus segala kepentingan anaknya itu di kala masih lemah, belum dapat mengambil sesuatu manfaat dan belum dapat pula menolak sesuatu bahaya. Selain diri itu, orang tua memberikan kasih sayang yang tidak ada tandingannya. Apakah tidak wajib bagi si anak memberikan balasan kepada ibu-bapaknya sebagai imbalan atas budi baiknya?

Firman Allah swt
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).
(QS. Ar Rahman [55]:60)

Kecintaan kedua orang tua adalah disebabkan:
  1. Rasa cinta kasih yang dianugerahkan Allah kepada keduanya untuk menyempurnakan nikmat-Nya demi terpeliharanya jenis manusia.
  2. Rasa bangga terhadap anak-anaknya.
  3. Harapan di masa depan bahwa anaknya dapat menolong baik dengan harta maupun dengan tenaga dalam penghidupan.
Sudah Allah menyebutkan hak kedua orang tua, disebutkan pula hak kerabat (kaum keluarga) yaitu berbuat kebaikan terhadap mereka karunia berbuat ` kebaikan kepada kaum kerabat adalah faktor yang memperkuat tali perikatan di antara kaum kerabat itu.

Umat ini terdiri atas keluarga-keluarga dan rumah tangga-rumah tangga. Maka kebaikan dan keburukan umat tersebut tergantung kepada kebaikan dan keburukan keluarga dan rumah tangga. Orang yang tidak membina rumah tangga berarti dia tidak ikut membina unsur umat. Kemudian setiap rumah tangga itu hendaklah menghubungkan tali persaudaraan dengan rumah tangga lainnya berdasarkan tali keturunan, keagamaan ataupun kebangsaan. Dengan demikian akan terbinalah suatu bangsa dan umat yang kuat.

Mengadakan hubungan erat sesama keluarga adalah sesuai dengan firtah manusia. Agama Islam, agama memberi jalan yang baik bagi pertumbuhan ikatan kerabat ini.

Kemudian Allah menyebutkan pula hak orang-orang yang memerlukan bantuan yaitu hak orang miskin.

Berbuat kepada anak yatim ialah mendidiknya dengan baik dan memelihara segala hak-haknya. Alquran dan sunah sangat menganjurkan agar memperhatikan anak yatim walaupun ia kaya karunia yang dipandang ialah keyatiman itu sendiri. Allah mewasiatkan anak-anak yatim kepada masyarakat agar menganggap mereka itu sebagai anak sendiri untuk memberikan pendidikan umum. Jika mereka terlantar, mereka dapat menimbulkan kerusakan pada anak-anak lainnya, maka akibatnya lebih besar pada bangsa dan negara.

Berbuat ikhsan kepada orang miskin ialah memberikan bantuan kepada mereka terutama sewaktu mereka ditimpa kesulitan dan kemalangan.

Nabi bersabda:
الساعي على الأرملة والمسكين كالمجاهد في سبيل الله
Orang yang menolong terhadap orang janda dan orang miskin, seperti orang yang berjuang di jalan Allah.
(HR Muslim dari Abi Hurairah)

Allah mendahulukan menyebut anak yatim dari orang miskin, karunia orang miskin itu dapat berusaha sendiri untuk mencari makan, sedang anak yatim karunia dia masih kecil belum sanggup berusaha sendiri.

Sesudah Allah menyuruh berbuat kebaikan kepada kedua orang tua, kaum keluarga, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, maka Allah kemudian menyuruh mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama manusia.

Bilamana kebaikan itu telah dikerjakan berarti ketinggian dan kemajuan masyarakat telah tercapai.

Allah selanjutnya memerintahkan kepada Bani Israel untuk melaksanakan salat dan zakat seperti yang digariskan Allah untuk mereka. Salat pada tiap agama bertujuan memperbaiki jiwa, membersihkannya dan kerendahan budi dapat menghiasi jiwa dengan rupa-rupa keutamaan. Ruh salat ialah ikhlas kepada Allah, tunduk kepada kebesaran dan kekuasaan-Nya. Apabila salat itu kosong dari ruh tersebut, tidak akan memberi faedah apapun. Bani Israel selalu mengabaikan ruh salat itu sejak dahulu sampai waktu Alquran diturunkan dan bahkan sampai sekarang ini.

Zakat juga diperintahkan kepada mereka, karunia zakat itu mengandung perbaikan bagi urusan-urusan masyarakat. Orang-orang Yahudi dahulu mempunyai beberapa macam kewajiban zakat. Di antaranya ada harta yang tertentu yang diberikan kepada keluarga Nabi Harun. Kewajiban itu sampai sekarang masih dilakukan oleh golongan Lawiyin, di antaranya, harta yang diberikan kepada orang-orang miskin. Akan terapi orang Bani Israel berpaling dari perintah-perintah itu, tak menjalankannya tapi menolaknya. Mereka meninggalkannya dan tidak mau menepatinya.

Termasuk penyelewengan mereka ialah menganggap pendeta-pendeta mereka sebagai Tuhan yang menetapkan hukum halal dan haram, menambah upacara upacara agama menurut keinginan mereka, meninggalkan nafkah terhadap kerabat, melalaikan zakat, tidak melakukan amar makruf nahi mungkar dan lain-lain yang meruntuhkan agama.

Hanya sebagian kecil dari mereka pada zaman Musa a.s. atau pada tiap zaman yang taat pada perintah Allah. Pada tiap zaman, pada tiap bangsa atau umat selalu ada golongan orang yang ikhlas berjuang memelihara kebenaran sesuai dengan keyakinan dan kemampuan mereka. Namun demikian bila kemungkaran telah menyebar pada umat itu, kehadiran orang-orang ikhlas itu tidaklah mencegah tibanya azab Allah.

Di akhir ayat ini Allah berfirman yang artinya, "dan kamu (hal Bani Israel) selalu berpaling". Ayat ini menunjukkan kebiasaan dan kesukaan mereka tidak menaati petunjuk dan perintah Ilahi karenanya tersebarlah kemungkaran dan turunlah azab kepada mereka.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan) ingatlah (ketika Kami mengambil ikrar dari Bani Israel) maksudnya dalam Taurat, dan Kami katakan, ("Janganlah kamu menyembah) ada yang membaca dengan `ta` dan ada pula dengan `ya`, yaitu `laa ya`buduuna`, artinya mereka tidak akan menyembah (kecuali kepada Allah). Kalimat ini merupakan kalimat berita tetapi berarti larangan. Ada pula yang membaca `laa ta`buduu`, artinya `janganlah kamu sembah!` (Dan) berbuat kebaikanlah! (kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya) maksudnya berbakti selain itu juga (kaum kerabat) athaf pada al-waalidain (anak-anak yatim dan orang-orang miskin serta ucapkanlah kepada manusia) kata-kata (yang baik) misalnya menyuruh pada yang baik dan melarang dari yang mungkar, berkata jujur mengenai diri Muhammad dan ramah tamah terhadap sesama manusia. Menurut suatu qiraat `husna` dengan `ha` baris di depan dan `sin` sukun yang merupakan mashdar atau kata benda dan dipergunakan sebagai sifat dengan maksud untuk menyatakan `teramat` artinya teramat baik. (Dan dirikanlah salat serta bayarkan zakat!) Sesungguhnya kamu telah memberikan ikrar tersebut. (Kemudian kamu tidak memenuhi) janji itu. Di sini tidak disebut-sebut orang ketiga, yaitu nenek moyang mereka (kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu juga berpaling.") seperti halnya nenek moyangmu.
««•»»
And, mention, when We made a covenant with the Children of Israel, in the Torah, where We said: ‘You shall not worship (a variant reading [for lā ta‘budūna] has [third person plural] lā ya‘budūn [‘they shall not worship’]) any other than God (lā ta‘budūna illā Llāha is a predicate denoting a prohibition; one may also read lā ta‘budū [Worship you not]); and to be good, and righteous, to parents, and the near of kin: here kinship is adjoined to parents; and to orphans, and to the needy; and speak well, [good] words, to men, commanding good and forbidding evil, being truthful with regard to the status of Muhammad (s), and being kind to them [sc. orphans and the needy] (a variant reading [for hasanan] has husnan, the verbal noun, used as a hyperbolic description); and observe prayer and pay the alms’, which you actually accepted, but, then you turned away, refusing to fulfil these [obligations] (here the second person address is used, but their forefathers are [still] meant); all but a few of you, rejecting it, like your forefathers.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 82]•[AYAT 84]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
83of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=83&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:83


[002] Al Baqarah Ayat 082

««•»»
Surah Al Baqarah 82

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
««•»»
waalladziina aamanuu wa'amiluu alshshaalihaati ulaa-ika ash-haabu aljannati hum fiihaa khaaliduuna
««•»»
Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.
««•»»
And those who have faith and do righteous deeds, —they shall be the inhabitants of paradise; they shall remain in it [forever].
««•»»

Pada ayat ini Allah menjanjikan kepada orang yang berbuat amal saleh dengan ganjaran surga.

Biasanya ayat ancaman selalu diikuti dengan ayat janji balk. Faedahnya antara lain sebagai berikut:
1.Untuk menunjukkan keadilan Ilahi. Bilamana Allah menetapkan azab yang abadi bagi orang-orang yang terus-menerus dalam kekafiran, maka Allah juga menetapkan pahala abadi (surga) bagi mereka yang terus menerus dalam iman.
2.Bahwa janji baik (harapan) dan janji buruk (ancaman) dari Allah itu menanamkan ke dalam jiwa orang mukmin rasa harap dan cemas yang seimbang.
3.Bahwa Allah dengan janji baik-Nya menunjukkan kesempurnaan rahmat-Nya dan dengan janji buruk dari pada-Nya Allah menunjukkan kesempurnaan keadilan-Nya.
Semua orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan beriman akan hari akhirat serta mengerjakan amal-amalan baik, menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhkan diri dari maksiat, mereka itulah yang pantas masuk surga sebagai balasan yang setimpal terhadap ketundukan mereka kepada Allah dan keikhlasan mereka kepada-Nya, baik secara rahasia maupun secara nyata.

Di dalam ayat ini jelas terbukti bahwa masuk surga itu dikaitkan dengan iman yang benar dan amal yang saleh,

seperti tersebut di dalam hadis.
إن النبى صلى الله عليه وسلم قال لسفيان بن عبد الله الثقفي: وقد قال له: يا رسول الله قل لي فى الإسلام قولا لا أسأل عنه أحدا غيرك قال: قل أمنت بالله ثم استقم
Bahwa Nabi saw bersabda kepada Sufyan Ibnu Abdillah As Saqaff. tatkala Sufyan bertanya kepada Rasul, ujarnya, "Ya Rasulullah! Terangkanlah kepadaku mengenai Islam, sesuatu petunjuk yang tidak perlu lagi saya bertanya tentang hal itu kepada seseorang sesudahmu" Nabi menjawab, "Katakanlah saya telah beriman kepada Allah, kemudian berlaku luruslah kamu". (HR Muslim dari Sufyan Ibnu Abdillah As Saqafi)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sebaliknya orang-orang yang beriman dan beramal saleh mereka itu penduduk surga, kekal mereka di dalamnya.)
««•»»
And those who believe and perform righteous deeds — those are the inhabitants of Paradise, therein abiding.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 81]•[AYAT 83]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
82of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=82&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:82


[002] Al Baqarah Ayat 081

««•»»
Surah Al Baqarah 81

بَلَى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
««•»»
balaa man kasaba sayyi-atan wa-ahathat bihi khathii-atuhu faulaa-ika ash-haabu alnnaari hum fiihaa khaaliduuna
««•»»
(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
««•»»
Certainly whoever commits misdeeds and is besieged by his iniquity —such shall be the inmates of the Fire, and they shall remain in it [forever].
««•»»

Pada ayat ini dengan tegas Allah menyatakan tidak benar sama sekali apa yang mereka katakan itu. Bahkan api akan membakar diri mereka dan orang orang yang lain dalam waktu yang lama sesuai dengan dosa mereka.

Yang dimaksud dengan dosa di sini ialah dosa mempersekutukan Allah. Maka orang yang mempersekutukan Allah dan orang-orang kafir kekal di dalam neraka.

Sebahagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan dosa di sini ialah kesalahan pada umumnya. Mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kekal di sini ialah mendekam dalam neraka dalam waktu yang lama sampai batas waktu yang telah dikehendaki Allah. Maka orang yang berbuat maksiat yang mengerjakan dosa-dosa besar, dia mendekam di dalam neraka beberapa lama waktunya, kemudian keluar dari neraka, kapan Allah menghendakinya. Apabila manusia bertobat dengan jujur atas segala macam dosa dan meninggalkan dengan sungguh-sungguh dosa-dosanya itu, maka dirinya tidak akan diliputi oleh kesalahan-kesalahan dan jiwanya tidak akan berkarat dengan kesalahan-kesalahan itu.

Dalam suatu hadis Nabi saw bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن المؤمن إذا أذنب ذنبا كان نقطة سوداء فى قلبه، فإن تاب ونزع واستعتب صقل قلبه وان زاد زادت حتى تغلق قلبه
Sesungguhnya orang yang beriman apabila ia mengerjakan perbuatan dosa terdapatlah suatu titik-titik hitam di dalam hatinya, maka jika ia bertobat, mencabut perbuatannya dan berusaha untuk men menghapuskannya cemerlanglah hatinya dan jika ia tambah mengerjakan perbuatan buruk bertambahlah titik-titik itu hingga tertutup hatinya.
(HR Ahmad, Turmizi, Hakim dll, dari Abu Hurairah).

Maka itulah kata "rana" (karat) yang dikatakan Allah dalam Alquran:
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka".
(QS Al Muthaffifiin [83]:14)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Tidak demikian yang sebenarnya) tetapi kamu pasti akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. (Barang siapa yang berbuat kejahatan) atau kemusyrikan (dan ia dilingkungi oleh dosanya) dapat secara tunggal dan dapat pula secara jamak, maksudnya dosanya itu telah meliputi dan melingkunginya dari segala penjuru disebabkan kematiannya dalam keadaan musyrik (mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya). Di sini dipakai jamak, dengan menitikberatkan arti `man` atau `barang siapa`.
««•»»
Not so, it will touch you and you will abide therein; whoever earns evil, through associating another with God, and is encompassed by his transgression, in the singular and the plural, that is to say, it overcomes him and encircles him totally, for, he has died an idolater — those are the inhabitants of the Fire, therein abiding (khālidūn: this [plural noun] takes account of the [plural] import of man, ‘whoever’).

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Diketengahkan oleh Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan oleh Ibnu Jarir serta Ibnu Abu Hatim, dari jalur Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abu Muhammad dan Ikrimah, atau dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, katanya, "Rasulullah saw. datang ke Madinah, sementara orang-orang Yahudi mengatakan, 'Usia dunia ini hanya tujuh ribu tahun, dan setiap seribu tahun dunia sama dengan satu hari akhirat lamanya, jadi tidak lebih dari tujuh hari, mereka disiksa dan setelah itu siksa pun terhentilah.' Maka mengenai hal ini Allah pun menurunkan, 'Kata mereka, 'Kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka...' sampai dengan firman-Nya '...mereka kekal di dalamnya.'"
(QS. Al Baqarah [2]:80-81).

Diketengahkan oleh Ibnu Jarir, dari Jalur Dhahhak dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang Yahudi mengatakan, "Kami masuk neraka itu hanyalah selama kami menyembah anak sapi dulu, yaitu tidak lebih dari 40 hari. Jika masa itu telah berlalu, maka terputus pula siksaan terhadap kami." Maka turunlah ayat tersebut.

Mengenai ayat ini Ibnu Jarir telah mengetengahkannya pula dari Ikrimah dan selainnya.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 80]•[AYAT 82]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
81of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=81&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:81


[002] Al Baqarah Ayat 080

««•»»
Surah Al Baqarah 80

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
««•»»
waqaaluu lan tamassanaa alnnaaru illaa ayyaaman ma'duudatan qul attakhadztum 'inda allaahi 'ahdan falan yukhlifa allaahu 'ahdahu am taquuluuna 'alaa allaahi maa laa ta'lamuuna
««•»»
Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?"
««•»»
And they say, ‘The Fire shall not touch us except for a number of days.’ Say, ‘Have you taken a promise from Allah? If so, Allah shall never break His promise. Or do you ascribe to Allah what you do not know?’
««•»»

Dalam ayat ini Allah menyebutkan lagi segi lain dari kedurhakaan orang Yahudi yaitu mengenai anggapan mereka bahwa mereka tidak dibakar oleh api neraka kecuali hanya berapa hari saja.

Maksudnya tidak kekal di dalam neraka karunia mereka adalah putra dan kekasih-kekasih Allah. Kebanyakan orang Yahudi berpendapat bahwa mereka dimakan api selama tujuh hari. Karena umur dunia menurut pendapat mereka 7000 tahun. Maka barangsiapa di antara mereka yang tidak memperoleh keselamatan dan kemenangan serta kebahagiaan, maka mereka akan mendekam dalam neraka selama 7 hari. Tiap-tiap sehari lamanya seperti 1000 tahun.

Ada yang berpendapat bahwa mereka dimakan api selama 40 hari, yaitu selama mereka menyembah anak sapi.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan mereka berkata) yakni tatkala Nabi mengancam mereka dengan neraka, ("Kami sekali-kali takkan disentuh) tidak akan ditimpa sama sekali (oleh api neraka, kecuali selama hari-hari yang berbilang") maksudnya selama beberapa hari saja, yaitu selama 40 hari yakni selama waktu nenek moyang mereka menyembah patung lembu, kemudian siksaan itu akan berhenti. (Katakanlah) kepada mereka hai Muhammad, ("Apakah kamu telah menerima) hamzah washalnya dibuang karena cukup dengan adanya hamzah istifham (janji dari Allah) atau ikrar mengenai hal tersebut? (Sehingga Allah tidak akan menyalahi janji-Nya?) Tidak, bukan? (Ataukah) bahkan (kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui").
««•»»
And they say, when the Prophet promised them the Fire, ‘the Fire shall not touch us, that is, afflict us, save a number of days’, only a short time of forty days: the same length of time their forefathers worshipped the calf, after which time it [the Fire] will cease. Say, to them Muhammad (s): ‘Have you taken with God a covenant?, a pledge from Him to this? God will not fail in His covenant, in this matter, or — nay — say you against God what you do not know? (a’ttakhadhtum: the conjunctive hamza has been omitted on account of the interrogative hamza sufficing).

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Diketengahkan oleh Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan oleh Ibnu Jarir serta Ibnu Abu Hatim, dari jalur Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abu Muhammad dan Ikrimah, atau dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, katanya, "Rasulullah saw. datang ke Madinah, sementara orang-orang Yahudi mengatakan, 'Usia dunia ini hanya tujuh ribu tahun, dan setiap seribu tahun dunia sama dengan satu hari akhirat lamanya, jadi tidak lebih dari tujuh hari, mereka disiksa dan setelah itu siksa pun terhentilah.' Maka mengenai hal ini Allah pun menurunkan, 'Kata mereka, 'Kami sekali-kali tidak akan disentuh api neraka...' sampai dengan firman-Nya '...mereka kekal di dalamnya.'"
(QS. Al Baqarah [2]:80-81).

Diketengahkan oleh Ibnu Jarir, dari Jalur Dhahhak dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang Yahudi mengatakan, "Kami masuk neraka itu hanyalah selama kami menyembah anak sapi dulu, yaitu tidak lebih dari 40 hari. Jika masa itu telah berlalu, maka terputus pula siksaan terhadap kami." Maka turunlah ayat tersebut.

Mengenai ayat ini Ibnu Jarir telah mengetengahkannya pula dari Ikrimah dan selainnya.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 79]•[AYAT 81]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
80of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=80&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:80


[002] Al Baqarah Ayat 079

««•»»
Surah Al Baqarah 79

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ
««•»»
fawaylun lilladziina yaktubuuna alkitaaba bi-aydiihim tsumma yaquuluuna haadzaa min 'indi allaahi liyasytaruu bihi tsamanan qaliilan fawaylun lahum mimmaa katabat aydiihim wawaylun lahum mimmaa yaksibuuna
««•»»
Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.
««•»»
So woe to those who write the Book with their hands and then say, ‘This is from Allah,’ that they may sell it for a paltry gain. So woe to them for what their hands have written, and woe to them for what they earn!
««•»»

Kemudian sesudah Allah menerangkan mereka yang berpegang kepada sangkaan belaka, maka disusullah dalam ayat ini dengan keterangan tentang orang-orang yang terlibat dalam pemalsuan kitab suci yaitu mereka yang menyesatkan dengan mengada-adakan dusta terhadap Allah dan memakan harta orang lain dengan secara tidak sah.

Orang-orang yang bersifat seperti itu akan ditimpakan kepada mereka kecelakaan yang besar terutama kepada pendeta mereka yang menulis kitab Taurat dengan menuruti kemauannya sendiri, kemudian mengatakan kepada orang awam, bahwa inilah Taurat yang sebenarnya.

Mereka berbuat begitu adalah untuk mendapatkan keuntungan duniawi seperti pangkat, kedudukan dan harta benda.

Allah menerangkan bahwa keuntungan yang mereka ambil itu adalah amat murah (sedikit), dibanding dengan kebenaran yang dijualnya itu yang sebenarnya sangat mahal dan tinggi nilainya. Kemudian Allah mengulangi ancaman-Nya terhadap kelakuan Pendeta Yahudi itu, bahwa kepada mereka akan ditimpakan siksa yang pedih.

Pendeta-pendeta Yahudi yang telah menulis Taurat itu telah melakukan tiga kejahatan, yaitu:
  1. Menyembunyikan sifat-sifat Nabi saw yang tersebut dalam Taurat.
  2. Mengadakan dusta kepada Allah.
  3. Mengambil harta orang dengan cara yang tidak sah.
Muhammad Abduh berkata, "Barang siapa ingin mengetahui perilaku orang orang Yahudi masa lalu, hendaklah ia melihat dan memperhatikan perilaku mereka pada masa sekarang. Maka akan terlihat perilaku mereka dalam lembaran yang terang dan jelas. Akan terlihat pula kitab yang disusun mengenai akidah dan hukum-hukum agama yang telah dibelokkan dari maksud-maksud yang sebenarnya, dirubah sehingga menimbulkan kekacauan pada manusia dan kerusakan dalam agama mereka".

Para pendeta itu berkata, "Kitab ini dari Allah". Padahal kitab itu sama sekali bukan dari Allah. Sesungguhnya kitab tersebut hanyalah menghambat manusia untuk memperhatikan kitab Allah dan petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya. Perbuatan yang demikian itu hanyalah dilakukan oleh salah satu di antara dua orang :
  1. Orang yang memang keluar dari agama, yang sengaja merusak agama dan menyesatkan pengikut-pengikutnya. Ia memakai pakaian agama dan menampakkan diri sebagai orang yang mengadakan perbaikan untuk menipu manusia agar orang-orang tersebut menerima apa yang dia tulis dan apa yang dia katakan.
  2. Orang yang sengaja menakwilkan dan sengaja membuat tipu muslihat agar mudah bagi manusia menyalahi agama. Orang ini berbuat demikian adalah untuk mencari harta dan kemegahan.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Maka kecelakaan besarlah) atau siksaan berat (bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri) artinya membuat-buatnya menurut kemauan mereka (lalu mereka katakan, "Ini dari Allah," dengan maksud untuk memperdagangkannya dengan harga murah) dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang sedikit berupa harta dunia. Mereka ini ialah orang-orang Yahudi yang mengubah-ubah sifat-sifat nabi yang tercantum dalam Taurat, begitu pun ayat rajam dan lain-lain yang mereka tulis lain daripada yang dimaksud. (Maka siksaan beratlah bagi mereka karena apa yang ditulis oleh tangan mereka) disebabkan mereka mengada-ada yang tidak ada (dan siksaan beratlah bagi mereka, disebabkan apa yang mereka kerjakan) yakni melakukan penyelewengan dan kecurangan.
««•»»
So woe, a severe chastisement, to those who write the Scripture with their hands, that is, fabricating it themselves, then say, ‘This is from God’ that they may sell it for a small price, of this world: these are the Jews, the ones that altered the description of the Prophet in the Torah, as well as the ‘stoning’ verse, and other details, and rewrote them in a way different from that in which they were revealed. So woe to them for what their hands have written, of fabrications, and woe to them for their earnings, by way of bribery (rishan, plural of rishwa).

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Diketengahkan oleh Nasai, dari Ibnu Abbas, katanya, "Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Ahli Kitab." Diketengahkan oleh Ibnu Abu Hatim, dari jalur Ikrimah, dari Ibnu Abbas katanya, "Ayat ini turun mengenai pendeta-pendeta Yahudi. Mereka menemukan sifat-sifat Nabi saw. tercantum dalam Taurat sebagai berikut. Biji matanya hitam, tinggi badannya sedang, rambutnya keriting dan wajahnya rupawan. Karena dengki dan iri hati, lukisan ini mereka hapus lalu mereka ganti menjadi, 'Kami temui tanda-tandanya sebagai seorang yang tinggi, biru matanya dan berambut lurus.'"
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 78]•[AYAT 80]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
79of286
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=2&tAyahNo=79&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#2:79